Sunday, September 29, 2013

Posted by Andien at 7:00 PM
Cinta Berbeda Keyakinan

Seperti kata Sudjiwo Tedjo, kita bisa merencanakan menikah dengan seseorang. Tapi kita tidak bisa merencanakan jatuh cinta kepada siapa.
Ada penggalan menarik dari puisi Bunga Kering Perpisahan karya Denny JA ini.
Manusia lebih tua dari agama,
Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya,
Cinta lebih tua dari agama,
Janganlah agama mengalahkan cinta.

Kita tidak pernah memilih lahir di keluarga mana, suku tertentu hingga agama apa. Kebetulan aja kita dilahirkan menjadi bagian dari keluarga Islam, Kristen, atau Hindu. Kebetulan saja kita dilahirkan menjadi suku Jawa, Batak atau Papua. Kebetulan saja kita dilahirkan di Amerika, Eropa atau Afrika. Kebetulan saja kita dilahirkan berwarna sawo gosong, kuning langsat atau pucat pias.
Tapi cinta kerap irasional dan di luar logika. Karena itulah cinta menjadi kompleks, tidak terdefinisikan dan penuh warna. Termasuk ketika tersekat oleh agama. Dia datang pada waktu yang tak terduga, menyiksa bukan karena kita tak mampu menggapainya tapi karena kita tak mengerti bagaimana langkah untuk mewujudkannya. Karena penuh warna, maka cinta acap penuh drama.
Seminimal mungkin perbedaan yang terbentang diantara kita, semakin sedikit usaha untuk meluruskan perbedaan yang kita punya. Pernikahan, meski aku belum mengalaminya, bukanlah untuk menyamakan perbedaan dua anak manusia. Melainkan membuat perbedaan yang ada menjadi seirama sehingga tujuan yang dicita-citakan tergapai dengan lebih cepat.

Lalu, apakah mereka yang beda agama, suku dan status sosial hidup bahagia hanyalah sebuah utopia? Tentu saja tidak. Hanya, jalannya menjadi lebih terjal. ‘Harga’ yang harus dibayar menjadi lebih mahal dan bisa jadi waktu yang dibutuhkan lebih lama. Karena simpangan dan derajatnya besar, kompromi terhadapnya juga menjadi lebih besar. Namun tidak semua dari kita bersedia berkorban terus menerus bukan? Karena itulah, perjuangannya mereka yang ‘cinta tapi beda’ menjadi lebih berat. Berbanggalah mereka yang menikah beda agama akhirnya bisa hidup bahagia.
Toh kalau mau mengikuti logika, kita sebenarnya bisa menghindari jalan terjal ‘beda agama’ ini. Jika sudah tahu beda agama, kenapa mesti didekati? Jika sudah tahu risikonya, kenapa mesti stalking diam-diam? Kenapa harus ada perhatian lebih dan mengapa harus membiarkan hati kita terbuka untuk dia. Bukankah sejak awal kita bisa membatasi diri tidak mengikuti rasa penasaran terhadap dia yang mencuri perhatian kita.
Toh, sebenarnya tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukankah untuk bisa jatuh cinta kita mesti mengalami yang namanya pertemuan kedua, ketiga dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Bukankah pada pertemuan-pertemuan selanjutnya kita mengetahui lebih banyak tentang dia. Bukankah artinya kita bisa berpikir waras bahwa ada jalan terjal yang akan menunggu di depan kita. Ah, tapi itulah cinta memang menabrak logika. Kalau sudah cinta, di ujung dunia pun akan kita kejar.
Cinta membuat kita kalap mata, buta terhadap risiko, nekat menerobos rambu-rambu dan ya begitu yang akhirnya terjebak pada situasi rumit yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Kita terjebak pada dilema yang kita ciptakan sendiri. Ketika sudah masuk pada ‘pertemuan-pertemuan berikutnya’, pilihan jatuh cinta adalah pilihan dengan kesadaran. Kita tahu artinya. Termasuk jalan terjal yang mungkin akan ditempuh. Kita sadar risikonya.
Sayangnya, tidak setiap dari kita bisa memilih takdir yang kita suka…

0 comments:

Post a Comment

 

Autumn Feels Like A Summer Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos