Cinta Berbeda Keyakinan
Seperti kata Sudjiwo Tedjo, kita bisa
merencanakan menikah dengan seseorang. Tapi kita tidak bisa merencanakan jatuh
cinta kepada siapa.
Ada penggalan menarik dari puisi
Bunga Kering Perpisahan karya Denny JA ini.
Manusia lebih tua dari agama,
Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya,
Cinta lebih tua dari agama,
Janganlah agama mengalahkan cinta.
Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya,
Cinta lebih tua dari agama,
Janganlah agama mengalahkan cinta.
Kita tidak pernah memilih lahir di keluarga
mana, suku tertentu hingga agama apa. Kebetulan aja kita dilahirkan menjadi
bagian dari keluarga Islam, Kristen, atau Hindu. Kebetulan saja kita dilahirkan
menjadi suku Jawa, Batak atau Papua. Kebetulan saja kita dilahirkan di Amerika,
Eropa atau Afrika. Kebetulan saja kita dilahirkan berwarna sawo gosong, kuning
langsat atau pucat pias.
Tapi cinta kerap irasional dan di luar logika.
Karena itulah cinta menjadi kompleks, tidak terdefinisikan dan penuh warna.
Termasuk ketika tersekat oleh agama. Dia datang pada waktu yang tak terduga,
menyiksa bukan karena kita tak mampu menggapainya tapi karena kita tak mengerti
bagaimana langkah untuk mewujudkannya. Karena penuh warna, maka cinta acap
penuh drama.
Seminimal mungkin perbedaan yang
terbentang diantara kita, semakin sedikit usaha untuk meluruskan perbedaan yang
kita punya. Pernikahan, meski aku belum mengalaminya, bukanlah untuk menyamakan
perbedaan dua anak manusia. Melainkan membuat perbedaan yang ada menjadi
seirama sehingga tujuan yang dicita-citakan tergapai dengan lebih cepat.
Lalu, apakah mereka yang beda agama, suku dan status sosial
hidup bahagia hanyalah sebuah utopia? Tentu saja tidak. Hanya, jalannya menjadi
lebih terjal. ‘Harga’ yang harus dibayar menjadi lebih mahal dan bisa jadi
waktu yang dibutuhkan lebih lama. Karena simpangan dan derajatnya besar,
kompromi terhadapnya juga menjadi lebih besar. Namun tidak semua dari kita
bersedia berkorban terus menerus bukan? Karena itulah, perjuangannya mereka
yang ‘cinta tapi beda’ menjadi lebih berat. Berbanggalah mereka yang menikah
beda agama akhirnya bisa hidup bahagia.
Toh kalau mau mengikuti logika, kita sebenarnya bisa menghindari
jalan terjal ‘beda agama’ ini. Jika sudah tahu beda agama, kenapa mesti
didekati? Jika sudah tahu risikonya, kenapa mesti stalking diam-diam? Kenapa
harus ada perhatian lebih dan mengapa harus membiarkan hati kita terbuka untuk
dia. Bukankah sejak awal kita bisa membatasi diri tidak mengikuti rasa
penasaran terhadap dia yang mencuri perhatian kita.
Toh, sebenarnya tidak ada yang namanya jatuh cinta pada
pandangan pertama? Bukankah untuk bisa jatuh cinta kita mesti mengalami yang
namanya pertemuan kedua, ketiga dan pertemuan-pertemuan berikutnya. Bukankah
pada pertemuan-pertemuan selanjutnya kita mengetahui lebih banyak tentang dia.
Bukankah artinya kita bisa berpikir waras bahwa ada jalan terjal yang akan
menunggu di depan kita. Ah, tapi itulah cinta memang menabrak logika. Kalau
sudah cinta, di ujung dunia pun akan kita kejar.
Cinta membuat kita kalap mata, buta terhadap risiko, nekat
menerobos rambu-rambu dan ya begitu yang akhirnya terjebak pada situasi rumit
yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Kita terjebak pada dilema yang kita
ciptakan sendiri. Ketika sudah masuk pada ‘pertemuan-pertemuan berikutnya’,
pilihan jatuh cinta adalah pilihan dengan kesadaran. Kita tahu artinya.
Termasuk jalan terjal yang mungkin akan ditempuh. Kita sadar risikonya.
Sayangnya, tidak setiap dari kita bisa memilih takdir yang kita
suka…
0 comments:
Post a Comment